Strategi Umum

KEBAJIKAN KE(WARGA)AN

*Untuk semua, khusus untuk seorang sahabat.

(by Sutoro Eko)

Dipengaruhi oleh para ilmuwan sosial yang antipolitik, para birokrat lebih banyak bicara masyarakat ketimbang bicara rakyat. Hanya segelintir birokrat idealis yang suka bicara rakyat, dengan intonasi yang lantang bertenaga. Mengapa demikian? Konsep masyarakat direproduksi bukan tanpa makna. Sebagai konsep antipolitik, masyarakat digunakan untuk menyembunyikan subyek politik, sekaligus untuk menghindari keberpihakan pada rakyat.

REKONSTITUSI NKRI

(oleh Sutoro Eko)

Manusia yang waras pasti sedih dan prihatin atas kejahatan terorisme. Dengan warasisme, moralisme dan humanisme kaum teroris harus diumpat, dicaci, dikutuk sebagai penjahat biadab. Tetapi semangat dan kutukan ini tidak akan menghentikan mereka. Mereka punya dogma dan keyakinan untuk melandasi perbuatan "suci" mereka. Mereka juga hadir sebagai organisasi politik yang terus-menerus ada kaderisasi, mobilisasi dan konsolidasi secara militan seperti kaum komunis di masa silam.

TEKNOKRAT

(Oleh Sutoro Eko)

Alkisah ada orang yang rajin shalat Jumat dari masjid ke masjid. Setiap pulang orang itu berhasil mencuri sandal atau sepatu bagus. Suatu ketika dia berhasil mencuri motor, dan kian sering sukses dapat curian motor. Pihak yang dicuri pasti marah-marah. Tetapi apa mau dikata.

INDUSTRI ANTI-KEMISKINAN

(oleh Sutoro Eko)

Setiap calon penguasa pasti melakukan eksploitasi terhadap kaum miskin sembari obral anti-kemiskinan. Setelah berkuasa, sang penguasa itu bikin program antikemiskinan (penanggulangan kemiskinan) yang didukung dunia internasional, teknokrat, para ahli, LSM, fasilitator, dan masih banyak lagi.

Apa hasilnya? Pada tahun 2010, seorang pejabat program anti-kemiskinan berujar dengan data: "Dana untuk penanggulangan kemiskinan meningkat drastis sebesar 250% selama lima tahun, tetapi angka kemiskinan hanya turun 2%".

IDEOLOGI BERDESA

oleh : Sutoro Eko

Menulis buku tentang desa tidak harus kerasukan kata-kata bahasa Belanda yang sudah usang. Bukan hanya usang, kata-kata bahasa Belanda sungguh mengawetkan isolasi dan penindasan atas desa. Serupa tapi tak sama, mengutamakan diskursus proyek dana desa tanpa hakekat desa, hanya memberi gula, karbohidrat dan lemak yang pelan-pelan membunuh desa. Dengan begitu diskursus hukum pemerintahan dan proyek dana desa sebenarnya meletakkan desa pada tangga martabat yang rendah.