Tips & Trik Produk Bumdes Laku di Marketplace

Tips & Trik Produk Bumdes Laku di Marketplace

Mon, 02/10/2020 - 22:01
0 comments

Catatan Kuliah 11

Tips & Trik Produk Bumdes Laku di Marketplace

Bersama: Samsul Widodo (Dirjend PDT), Sari Kacaribu (Tokopedia)

Host: Marthella

 

Sesuai dengan pokok bahasan kuliah, Pak Samsul bercerita, tahun 2018 pada awal menjabat sebagai Dirjend PDT beliau menemukan berita menarik dari koran, ada startup yang menjual ikan laut secara online hingga ke manca negara. Seminggu kemudian Pak Samsul bisa bertemu dengan startup tersebut yaitu CEO PT. Arun yang bernama Farid. Dari pertemuan terjadi kerja-sama antara Kementerian Desa dengan PT. Arun dengan model pengembangan usaha yang sangat menguntungkan masyarakat desa nelayan.

Ada 3 hal yang terkait dengan nelayan, pertama, kalau panen banyak mereka tidak punya cold storage, kedua, mereka tidak bisa melaut tanpa es. Ketiga, menyangkut keterampilan nelayan karena tiap jenis ikan memerlukan perlakuan yang berbeda supaya hasilnya bagus.

“Waktu itu saya sampaikan ke Aruna kalau Kementerian Desa bisa membantu mengatasi masalah tersebut, apakah Aruna mau membantu produk yang dihasilkan nelayan tersebut. Akhirnya terjadi kesepakatan bahwa Kementerian Desa membantu nelayan dan Aruna menjualkan produknya,” kata Pak Samsul.

Dengan model kerja-sama tersebut ternyata hasilnya sangat cepat terlihat, setelah empat bulan kerja-sama terjadi peningkatan keterampilan dan peralatan serta pendapatan nelayan naik hingga empat kali lipat. Dari pengalaman ini maka Kementerian Desa makin banyak melakukan upaya untuk menjalin kerja-sama dalam pemasaran online dengan berbagai start-up dan marketplace, baik itu produk perikanan, buah-buahan, ataupun produk lain.

Salah satu kerja-sama tersebut adalah dengan Tokopedia dalam program Tokopedia Center, yaitu menambahkan fungsi kantor Bumdes menjadi pusat pelatihan penjualan secara online. “Jadi Tokopedia Center itu memberi pelatihan dan pemahaman gimana sih caranya sehingga orang desa bisa belajar meng-online-kan produknya,” kata Pak Samsul.

Ketika ditanya kebijakan Kementerian Desa pemasaran secara digital, Pak Samsul mengatakan bahwa kebijakan yang tidak sampai mengatur atau menyebutkan pemasaran secara digital, namun ini hanya soal strategi saja. Artinya ini bisa dimanfaatkan.

“Sebagai contoh, rata-rata orang punya lebih dari 10 grup whatsap, pasti punya grup banyak banget, ada grup sekolah SD SMP SMA kuliah, grup pangajian, grup hobi mancing dan lain sebagainya. Sekali kita kirim foto, kita kirim ke semua. Model-model seperti ini bisa kita pakai untuk pemasaran. Sebenarnya Kementerian Desa mendorong inovasi baru untuk melakukan percepatan pembangunan daerah tertinggal dan salah satu inovasi yang kita kembangkan adalah digitalisasi,” jelas Pak Samsul.

Awal pengembangan Tokopedia Center adalah pada desa yang lokasinya mudah terjangkau dan ada akses internet yang cukup stabil. Jadi dimulai pada desa yang cukup kondusif dan bisa menjadi showcase atau contoh bagi desa-desa yang lain, sehingga mereka bisa datang ke situ dan belajar. Kementerian Desa juga mencari pemerintah daerah yang cukup menyambut digitalisasi pemasaran produk desa dan mau melakukan terobosan. Dan hasilnya cukup bagus sehingga pada tahun ini akan diperluas lagi.

Mengenai produk yang dipasarkan secara online tidak membatasi jenisnya, fakta bahwa Aruna bisa menjual produk ikan laut segar hingga ke manca negara. Buah dan sayur juga telah banyak dipasarkan secara online. Tentunya untuk produk semacam ini perlu penanganan khusus. Untuk kopi atau produk lain yang tahan lama tentu akan lebih mudah menanganinya. Perkembangan terakhir untuk produk ikan teri kering dari Lembata NTT pemasarannya telah dikembangkan secara online, dan ternyata peminatnya cukup besar, termasuk permintaan ekspor ke cina.

“Kenapa sih kita tidak mencoba mengolah ikan asin menjadi snack rasa barbeque, rasa keju atau yang lain. Saya pernah menghitung, ikan asin di daerah Maluku itu harganya 50 ribu per-kilo, kalau di Jakarta harganya sekitar 150 ribu, misalnya kalau itu diolah, dikasih rasa dan dikemas, maka saya yakin ada banyak produk yang bisa kita angkat. Jadi pengetahuan-pengetahuan itu yang kami coba bantu dan bekerjasama dengan marketplace untuk membina mereka. Jadi yang kami prioritaskan adalah startup dan marketplace yang mau ikut serta membina atau melakukan pendampingan pada masyarakat desa. Dan tugas pemerintah itu lebih pada menciptakan ekosistem dan menghilangkan gangguan dimana swasta dan masyarakat desa itu bisa produktif,” kata Pak Samsul.

“Misalkan dengan Tokopedia, ketika melakukan pembinaan pada suatu desa, maka transport Tokopedia dan Kementerian Desa itu ditanggung masing-masing, bahkan pemerintah daerah juga kami ajak patungan demi suksesnya program yang dijalankan. Jadi pemerintah itu tidak memanjakan, kita itu bekerja untuk tujuan Bersama,” lanjut Pak Samsul.

Tokopedia Center

Salah satu misi Tokopedia adalah pemerataan ekonomi secara digital, dan itu tidak akan tercapai kalau tidak secara langsung terjun ke desa. Salah satu yang dilakukan adalah kerjasama dengan Bumdes untuk membentuk Tokopedia Center, akhir tahun 2019 sudah terbentuk 57 Tokopedia Center dan masih akan terus dikembangkan, karena menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.

Pada waktu masuk ke desa memang terdapat kesenjangan literasi internet, maka pada awalnya kita lakukan literasi supaya masyarakat desa mengenal manfaat internet. Mulai dari mengenal barcode, cashless dan prosedur lain dalam bertransaksi. Jadi bagaimana supaya handphone itu bisa lebih bermanfaat. Ketika literasi digital sudah cukup memadai, maka selanjutnya bagaimana memasarkan produk.

Beberapa cerita sukses dari Tekopedia Center adalah Bumdes Tarikolot Jaya dari Bogor dengan produk berbahan dasar aluminium seperti cetakan kue dan loyang. Bumdes Sari Binangkit Palasari juga terhitung sukses, akun pada tokopedia sudah memiliki 585 follower, transaksinya juga cukup lumayan. Secara global potensi desa yang ada di Indonesia itu sangat besar, mulai dari makanan dan minuman, kopi dan banyak sekali komoditi lain.

“Dengan adanya Tokopedia Center maka terjadi pendampingan secara terus menerus, terutama bila terjadi hambatan. Walau hanya satu orang saja yang minta bimbingan dan datang ke Tokopedia Center tetap kita layani, sampai mereka cukup lancar dan sukses hingga transaksi perdagangan. Jadi Tokopedia Center itu hadir secara permanen di desa,” kata Bu Sari.

Pada waktu pelatihan itu tidak hanya soal pembuatan akun, namun masalah kemasan juga menjadi materi belajar termasuk berkomunikasi dengan pemerintah supaya dibantu mesin pengemas, kemudian masalah foto produk juga harus menarik. Setelah itu dilatih bagaimana menulis deskripsi produk serta secara aktif mengelola akun termasuk menjawab pertanyaan konsumen, serta bagaimana meningkatkan rating dan ulasan.

“Untuk pengembangan tahun 2020 ini diharapkan minimal menjadi dua kali lipat jumlah Tokopedia Center, ya jadi ratusan lah. Karena untuk membangun basis baru kita perlu melihat potensinya, juga apakah ekosistem yang dikembangkan juga mendukung, terutama dukungan dari pemerintah daerah. Dan sebenarnya Bumdes  juga tidak harus membentuk Tokopedia Center jika mau berkembang, mereka bisa langsung berhubungan atau berkonsultasi dengan layanan pelanggan (CS) Tokopedia, atau bisa saling belajar dalam forum komunitas Tokopedia,” jelas Bu Sari.

Pertanyaan dan Jawaban

Menanggapi pertanyaan izin produk rumah tangga (PIRT), menurut Bu Sari memang harus ada untuk produk makanan dan minuman. Asal sudah memenuhi syarat sebenarnya ini soal mudah dan Tokopedia Center bisa membantu supaya pemerintah daerah mengeluarkan izin tersebut.

“Harusnya pendamping desa bisa memberikan pendampingan untuk produk-produk Bumdes supaya mendapat PIRT dari pemda. Jadi tinggal koordinasi dengan pendamping desa baik yang ada di desa, kecamatan atau kabupaten dalam mengurus izin tersebut. Kalau masih ada kesulitan maka bisa kontak kami yang ada di Kementerian Desa, nanti coba kita pandu. Dan ini juga masukan untuk pendamping desa yang harus mengenal prosedur untuk untuk mendapatkan PIRT,” tambah Pak Samsul.

Mengapa Bumdes harus masuk marketplace? Ataukah marketplace itu hanya untuk Bumdes dengan produk tertentu? “Kalau ditanya haruskah, itu sulit jawabnya. Saya tidak mengatakan harus, tapi begini, saya pikir ini peluang. Kalau kita jualan kan biasanya di perempatan jalan yang lalu lintasnya banyak orang sehingga barang kita dilihat. Lha selama ini marketplace di Indonesia itu sudah terdownload 200 juta, khusus Tokopedia sekitar 90 juta. Jadi kalau jualan di marketplace terdapat potensi 200 juta orang yang melihat,” kata Pak Samsul.

Bagaimana menyusun strategi bisnis? “Ada banyak sekali strategi bisnis yang mungkin bisa dikembangkan. Bisa saja Bumdes ini tidak punya produk, namun yang punya produk adalah kelompok masyarakat dan UMKM, maka Bumdes itu bisa mengkonsolidasi pemasaran yang lebih luas. Atau UMKM yang memproduksi saja sedangkan pengemasan (packaging) dan pemasaran dilakukan oleh Bumdes, termasuk soal perijinan. Tentu saja ini bisa berbeda tergantung pada kondisi masing-masing Bumdes. Terus jangan merasa kalau dijual online itu pasti laku, karena kuncinya kan kita harus promosikan, dan kita harus aktif mengelola toko online tersebut supaya bisa cepat merespon (fast respon) kepada calon konsumen dan lain sebagainya. Ini sangat berpengaruh supaya cepat laku, jadi banyak faktor,” kata Pak Samsul.

Untuk produk makanan dan minuman apakah perlu ijin dari BP-POM? “Saya kira PIRT sudah cukup. Mungkin nanti kita agendakan supaya dari departemen perindustrian yang menangani PIRT dan juga BP-POM supaya menyampaikan materi pada kuliah akademi desa, supaya lebih jelas. Mungkin setiap daerah terdapat situasi dan kondisi yang berbeda dalam hal perijinan, tapi untuk sementara untuk produk-produk Bumdes cukup dengan PIRT, karena untuk skala kecil rumah tangga memang cukup PIRT,” jawab Pak Samsul.

Bagaimana strategi bisnis untuk produk madu? “Saya pernah menangani produk madu, saya tidak tahu ini pertanyaan dari daerah mana, tapi waktu itu kami menangani produk madu dari Ujung Kulon dan Alor. Kalau madu, ini cukup menarik yaitu harus ada uji laboratorium, ini bisa dibantu Kementerian Desa, kirim ke kami data kapasitas produksi dan diambil daerah mana, serta sampel produk untuk kami akan bantu untuk uji lab. Silahkan saja berkonsultasi lebih lanjut dengan tim Akademi Desa, karena produk organik termasuk madu cenderung laku,” kata Pak Samsul.*****

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.