Tertib Administrasi Pembukuan Bumdes

Tertib Administrasi Pembukuan Bumdes

Mon, 01/27/2020 - 15:56
0 comments

Catatan Kuliah 08

Tertib Administrasi Pembukuan Bumdes

Bersama: Agus Salim (Bumdes Sinar Makmur), Agus Sofwan (TA PED Bogor)

Host: Humaira

 

Kuliah kali ini menghadirkan Bumdes Sinar Makmur dari Desa Sirnajaya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Terdiri dari dua unit usaha yaitu, unit wisata situ rawa gede, dan unit agro wisata kopi. Walau lokasinya dalam satu hamparan objek wisata, namun itu dikelola oleh dua unit yang berbeda. Yang agro wisata kopi bobotnya lebih pada budidaya dan bisnis kopi yang banyak melibatkan warga desa Sirnajaya.

Sebenarnya sejak tahun 2015 obyek wisata Situ Rawa Gede sudah dioperasikan oleh pemerintah desa, namun pengelolaannya masih bersifat parsial dan kurang fokus. Baru setelah terbentuk Bumdes pada akhir tahun 2018, maka obyek wisata itu dikelola oleh unit usaha Bumdes. Setelah itu secara drastis banyak terjadi perkembangan.

Saat ini Rawa Gede sudah ada fasilitas kolam renang, penambahan unit perahu yang lebih cantik, jembatan yang membelah danau yang disebut jembatan asyik, tempat selfi, serta warung-warung di pinggir danau yang dikelola penduduk desa juga tertata rapi dan cantik.

Selain itu berkat dukungan dana desa maka akses jalan menuju danau juga telah dibangun dengan baik. Selain retribusi sebesar Rp. 15.000,- pada tiap pengunjung yang dipungut oleh unit wisata, ekonomi penduduk Desa Sirnajaya juga terangkat dengan warung yang menjual aneka jajanan dan kerajinan khas desa. Pada tahun 2019 Bumdes juga mendapat bantuan program PIID-PEL dari Kementerian Desa untuk pengembangan agro wisata kopi, karena unit ini secara langsung melibatkan lebih banyak penduduk desa, yaitu para petani kopi.

Menurut keterangan Pak Sofwan, para pengurus Bumdes Sinar Makmur memang mempunyai semangat yang tinggi serta rajin berkomunikasi dan mencari koneksi. Misalnya dengan pemerintah daerah Kabupaten Bogor, mereka melakukan pendekatan supaya jalan menuju danau yang menjadi kewenangan Pemda juga diperbaiki. Bahkan pada tahun kemarin juga mendapat bantuan CSR dari PT. Astra untuk penambahan fasilitas wisata seperti perahu.

“Usaha kami berjalan lancar, serta bisa bicara dengan lancar kepada semua pihak, karena kami mengelola usaha dengan transparan, yaitu kami sangat ketat dalam administrasi pembukuan,” kata Pak Salim, direktur Bumdes Sinar Makmur.

Lanjut Pak Salim, “Administrasi pembukuan itu sangat penting, yaitu sebagai dasar kita untuk langkah selanjutnya. Kita juga jadi tahu rugi-laba, karena Bumdes itu dituntut untuk memperoleh keuntungan. Dan kita jadi bisa bertanggung-jawab pada masyarakat desa.”

Kemudian Pak Sofwan sebagai TA PED Kabupaten Bogor menerangkan secara teknis administrasi pembukuan. Bahwa laporan keuangan Bumdes dimulai dari buku bank, itu harus ada pada setiap Bumdes. Buku bank itu ada dua poin, yaitu pemasukan ada pengeluaran, ini harus sama denga buku rekening Bumdes

Selanjutnya ada buku kas umum yang menerjemahkan semua transakasi. Bahwa semua transakasi wajib dicatat tanpa menunda-nunda sampai nanti sore, besok atau akhir bulan. Kas umum adalah mencatat pemasukan dan pengeluaran Bumdes, termasuk belanja apa saja yang telah dilakukan, termasuk insentif apa saja, jadi semua transakasi tercatat per-item per-tanggal dan seterusnya.

Laporan keuangan Bumdes itu tidak perlu ribet, yang penting paham, pengurus Bumdes bisa mengerjakan, kemudian bisa menyampaikan dan menjelaskan kepada masyarakat, dan bisa menyampaikan kepada penasehat setiap bulan.

Sulit atau tidak kalau kita bersungguh-sungguh mengelola Bumdes dengan baik, itu tidak ada yang sulit, yang sulit itu biasanya yang malas dan yang menunda-nunda.

Pengalaman Bumdes Sinar Makmur untuk mengasah kemampuan pembukuan, diantara sesama pengurus biasanya saling belajar. Bumdes juga pernah dilatih oleh Universitas Pakaun dan UGM terkait pembukuan. “Yang paling membantu adalah Bapak TA PED yang sering datang ke desa, ketika ada kasus yang sulit beliau memberi pengarahan,” kata Pak Salim.

Selanjutnya Pak Sofwan menyampaikan bahwa selain pencatatan komputer serta online, bahwa pencatatan manual juga tetap penting, yaitu terutama untuk buku kas umum. Pak Sofwan juga menjelaskan bahwa pencatatan daftar inventaris adalah salah satu pembukuan yang harus dilakukan. Karena kadangkala ada kasus ketika terjadi pergantian pengurus kemudian asetnya hilang. Inventaris itu mulai dari yang kecil-kecil seperti steples hingga aset tanah.

“Kami sudah menyampaikan contoh pembukuan dengan file excel yang sudah berisi rumus dan link saling terkait antar file. Ini bisa didownlowd di website aakademi desa. Mengenai inventaris tadi, juga sudah berisi rumus dan link, yaitu berapa umur ekonomis suatu barang, apakah setahun atau dua tahun, dari situ dibuat rumus penyusutan, yang juga tersambung (link) dengan file neraca. Pada akumulasi penyusutan maka nilai buku juga harus tercantum,” jelas Pak Sofwan.

Akhirnya Pak Sofwan menutup penjelasannya dengan berkata bahwa, “kalau kita lalai dan menganggap tertib administrasi itu remeh, maka jangan harap Bumdes bisa sukses.”

Sedangkan Pak Salim sebagai direktur Bumdes berkata, “Inti organisasi adalah kepemimpinan, sedangkan di dalam kepemimpinan yang paling inti dan harus menjadi perhatian utama adalah tertib administrasi. Kerja sehebat apapun tanpa didukung administrasi itu bisa dikatakan belum ada bukti." ****

 

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.