REKONSTITUSI NKRI

REKONSTITUSI NKRI

Profile picture for user admin

(oleh Sutoro Eko)

Manusia yang waras pasti sedih dan prihatin atas kejahatan terorisme. Dengan warasisme, moralisme dan humanisme kaum teroris harus diumpat, dicaci, dikutuk sebagai penjahat biadab. Tetapi semangat dan kutukan ini tidak akan menghentikan mereka. Mereka punya dogma dan keyakinan untuk melandasi perbuatan "suci" mereka. Mereka juga hadir sebagai organisasi politik yang terus-menerus ada kaderisasi, mobilisasi dan konsolidasi secara militan seperti kaum komunis di masa silam.

Terorisme bukan soal aparatus negara yang teledor atau tidak tegas. Multikulturalisme juga hadir sebagai spirit usang yang tidak sanggup lagi menghalau terorisme. UU anti-terorisme sangat penting sebagai landasan absah untuk melalukan tindakan represif dan antisipatif. Tetapi UU juga tidak akan menghentikan pembibitan dan mobilisasi teroris. Mereka, bahkan keluarga sekalipun, siap mati berkorban demi keyakinan mereka, apalagi hanya dipenjara karena sampaikan ceramah kebencian.

Radikalisme dan terorisme perlu diletakkan pada konteks evolusi negara-bangsa dan ditambah dengan percaturan geopolitik global. Ini soal konsensus kolektif negara-bangsa yang rapuh, yang belum selesai. Negara tidak hadir sebagai "besi baja" yang kokoh dan disepakati (konstitutif) tetapi hadir sebagai "besi cair" yang selalu diperebutkan banyak pihak. Ini terjadi karena apa yang disebut negara-bangsa Indonesia bukan buah konsensus kolektif yang permanen, melainkan dikonstruksi sebagai warisan nenek moyang. Negara ini adalah warisan kolonial. Ada banyak pihak yang mengklaim sebagai ahli waris yang berhak mengambil "besi cair" untuk dibentuk apapun sesuai kehendaknya masing-masing.

Ada pewaris kolonialisme dalam tubuh negara yang antidaerah dan antiwarga. Kini watak kolonialisme itu disepuh dengan neoliberalisme dan teknokratisme yang mendominasi penyelenggaraan negara dan pembangunan. Kaum ini suka bicara Pancasila dan UUD 45 bukan sebagai ide, ilmu dan praktik malainkan hanya dogma semu.

Ada pewaris nasionalisme yang dulu sangat anti feodalisme, anti lokalisme, anti kolonialisme, anti liberalisme. Tetapi sekarang kaum nasionalis terbelah. Ada yang tetap konsisten, tetapi ada banyak yang pro sentralisme dan berkawan dengan neoliberalisme.

Ada Islamisme yang selalu anti kolonialisme, liberalisme, komunisme dan feodalisme. Mereka agak emoh dengan nasionalisme karena kaum nasionalis cenderung sekuler dan tidak antikomunis. Perkawanan kaum nasionalis dengan kaum neoliberalis, ditambah dengan mobilisasi politik dan pertarungan ekonomi-politik, kian memperkuat Islamisme. Seperti kata-kata mereka: NKRI tidak adil pada Islam!

Resolusi jangka panjang sangat penting dilakukan, yaitu rekonstitusi NKRI, dengan cara deliberasi dan negosiasi untuk merajut konsensus kolektif. Cara ini pernah ditempuh secara elegan dan beradab antara RI dengan GAM setelah tsunami 2004. Atau mereka mau dibikin seperti PKI?

(disadur dari Status Facebook Sutoro Eko)

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.