Penyusunan Rencana Usaha BUMDes

Penyusunan Rencana Usaha BUMDes

Mon, 01/27/2020 - 16:02
0 comments

Catatan Kuliah 09

Penyusunan Rencana Usaha BUMDes

Bersama: Rudi Suryanto (Sekjend Forum Bumdes), Agus Kholik (Direktur Bumdes Tridadi Makmur)

Host: Marthella

 

Materi kuliah pada sesi pertama adalah kasus Bumdes Tridadi Makmur dari Kabupaten Sleman Yogyakarta, sesi kedua aspek disain rencana usaha yang disampaikan oleh Pak Rudi, sedangkan sesi ketiga adalah menjawab pertanyaan.

Pak Agus, direktur Bumdes Tridadi Makmur bercerita bahwa akhir tahun 2017, desa-nya menginisiasi pendirian Bumdes, dan kebetulan Pak Agus sebagai ketua tim perumus yang mefasilitasi pendirian Bumdes. Kemudian tim perumus itu mengkaji segala peraturan yang terkait, juga peraturan desa, aturan penyertaan modal, serta teknik penyusunan ad/art.

Tim perumus juga mengkaji segala potensi serta melakukan uji kelayakan tiap potensi. Akhirnya tim perumus mengusulkan dua unit usaha yaitu unit tanaman hias aglonema dan unit wisata. Kemudian usulan tersebut disetujui dan disahkan oleh Musdes (Musyawarah Desa) yang kemudian dituangkan dalam Perdes (Peraturan Desa) tentang Bumdes. Pada tahun itu juga Pak Agus dilantik menjadi direktur Bumdes bersama tiga orang pengurus yang lain.

Sesuai dengan topik kuliah, yaitu penyusunan rencana usaha Bumdes, Pak Agus menjelaskan, ketika mengkaji potensi dia melihat bahwa tanah kas desa itu cukup luas, ada yang dipihak-ketigakan, ada yang untuk tegalan, dan ada yang mangkrak. Tim perumus berusaha meng-eksplore hal ini, yaitu Kemungkinan jadi usaha yang dijalankan Bumdes.

Pada sisi lain, ditemukan banyak warga desa yang suka dengan tanaman aglonema, yaitu ditanam di lingkungan rumah masing-masing namun dalam skala kecil.

Kajian dari sisi pasar juga menunjukkan bahwa sejak tahun 2000 bisnis aglonema ini trend-nya sangat bagus dan selalu meningkat hingga sekarang. Setiap bulan itu ada impor aglonema yang masuk ke Indonesia. “Padahal apa yang salah dengan negara kita, tanahnya subur, iklim mendukung,” kata Pak Agus.

Tim perumus melakukan anilisis atas semua temuan tersebut hingga prospek dan strategi pasar. Pertanyaan dasar: aglonema itu menguntungkan atau tidak, karena Bumdes itu mengemban misi bisnis. Sehingga harus jelas hitungan ekonominya.

Kemudian pada analisis keuangan diuraikan secara rinci berapa investasi yang harus tanamkan, lalu berapa besar biaya operasional yang harus dikeluarkan, kemudian rencana produksi seperti apa, lalu analisis akhir untung atau tidak. Ternyata kesimpulannya sangat menarik, terdapat potensi keuntungan ratusan juta yang bisa digali dari tanaman hias aglonema.

Unit Wisata Puri Mataram

Bila menyusun rencana usaha lebih dari satu unit, maka harus dilakukan secara terpisah. Berikut ini alur rencana usaha unit wisata yang dilakukan Bumdes Tridadi Makmur.

Dasarnya masih sama, yaitu tanah kas desa. Terdapat tanah seluas empat setengah hektar yang diapit dua sungai, struktur tanahnya naik turun. Ini sangat berpotensi, kalau ditata sedimikan rupa pasti menjadi obyek wisata yang menarik.

Secara peta lokasi juga sangat diuntungkan, karena Yogyakarta adalah kota wisata kedua setelah Bali, sedangkan posisi lokasi desa terletak diantara kota Yogyakarta dengan Candi Borobudur. Sehingga orang mau ke Borobudur pasti melewati desa tersebut. Akhirnya disimpulkan bahwa unit wisata adalah layak untuk dijalankan.

Berikutnya Pak Agus bercerita pengalaman nyata, bukan lagi rencana usaha. Puri Mataram adalah nama destinasi wisata yang dikelola oleh unit usaha tersebut. Pada awal pendirian tahun 2017 mendapat penyertaan modal dari dana desa sebesar Rp. 68.250.000,- kemudian tahun 2018 Rp. 103.000.000,- lalu tahun 2019 Rp. 300.000.000,-

Di dalam pengembangannya Puri Mataram tidak hanya mengandalkan modal dari dana desa, namun juga melibatkan masyarakat desa dalam penyertaan modal, karena membangun destinasi wisata itu perlu modal yang sangat besar. Dan model penyertaan modal ini juga disetujui oleh Kepala Desa dan BPD.

Langkah awal yang dilakukan Pak Agus adalah memberi contoh dan semua pengurus Bumdes yang mengawali ikut penyertaan modal, berikutnya adalah perangkat desa dan tokoh masyarakat, serta yang terakhir disosialisasikan secara luas kepada masyarakat desa. Akhirnya lebih dari seratus orang yang menanam saham.

Di tahun pertama Bumdes bisa membukukan omset 1,9 milyar dan mendapat keuntungan tiga ratus juta. Lalu di tahun 2019 berhasil membukukan omset 6 milyar dan mendapat keuntungan enam ratus juta. Adapun sharing keuntungan 51% keuntungan masuk ke desa sebagai pendapatan desa, baru yang 49% dibagi kepada warga desa yang memiliki saham.

Kunci Sukses Bumdes Tridadi Makmur

Berikutnya Pak Agus membeberkan kunci sukses Bumdes yang dipimpinnya. Bahwa mengelola Bumdes itu harus dengan sepenuh hati dalam menjalankan apa yang sudah dirumuskan dalam rencana usaha. Pertama kali yang dilakukan Pak Agus setelah dilantik adalah memastikan komitmen tiap pengurus. Pamrih harus di-nomor-tigakan. Kemudian semua pengurus sepakat akan menerima gaji manakala sudah memperoleh keuntungan. Jadi selama 10 bulan pengurus tidak menerima gaji, karena memang belum mendapat keuntungan.

“Soal kendala, pasti ada, tapi kami menganggap sebagai suatu tantangan. Misalnya masalah permodalan, bisa jadi loyo kalau lihat rencana itu di angka 5 milyar, awalnya duit yang dimiliki hanya 68 juta. Nah kalau ini dijadikan kendala ya jadi macet. Tapi kami pantang menyerah, dan menganggap itu sebagai tantangan. Akhirnya kita menemukan terobosan dalam pendanaan, lalu langkah yang dilakukan juga bertahap,” kata Pak Agus

Langkah taktis yang dilakukan dalam mengembangkan obyek wisata Puri Mataram adalah memprioritaskan apa yang bisa cepat jadi duit. Sehingga yang dibikin pertama adalah kolam dan resto, lalu untuk menarik pengunjung selanjutnya kita kasih becak air, dan pasar yang melibatkan ibu-ibu desa, lalu ditambah lagi atraksi lain yang menambah daya tarik wisatawan untuk datang. “Jadi kita lakukan bertahap, step by step, apa yang bisa jadi duit lebih dulu itu yang kita lakukan.” kata Pak Agus.

Rencana Usaha Bumdes

Selanjutanya adalah materi kuliah dari Pak Rudi, beliau mengatakan Bumdes itu sukses atau gagal itu bukan masalah kebetulan. Juga bukan dipengaruhi oleh jumlah penduduk atau lokasinya di jawa atau luar jawa. Tapi yang menjadi kunci adalah SDM, yaitu manusianya.

Untuk menjalankan unit usaha Bumdes itu harus mengenal diri dan lingkungan, karena ini masalah kesesuaian. Belajar dari Bumdes Tridadi Makmur yang perlu diperhatikan bukan bentuk luar namun perlu memperhatikan pola dan mekanisme.

Seperti tadi masalah lingkungan alam, apakah di dataran tinggi atau di lingkungan laut. Setelah itu dilihat dari sisi sosial, kemudian ekonomi, teknologi, dan seterusnya. Ini harus diperhatikan supaya unit usaha yang dijalankan tidak mangkrak.

Sebelum menyampaikan tehnik menyusun rencana usaha, kata Pak Rudi, kita harus memahami dan memperhatikan tiga hal berikut ini:

  1. Kita harus bedakan antara Bumdes dengan unit usaha Bumdes. Jadi rencana usaha ini lebih menyangkut rencana usaha → unit usaha Bumdes. Kalau unit usahanya lebih dari satu maka harus disusun satu per-satu. Ada persamaan diantara unit usaha Bumdes yang mangkrak, yaitu tidak menyusun rencana usaha.

  2. Usaha Bumdes itu adalah usaha yang unik, ini tidak seperti bisnis yang biasa karena ada dimensi sosial. Jadi selain memperhatikan profit juga harus memperhatikan nonprofit.

  3. Perlu melihat kondisi Bumdes, apakah masih rintisan (41.000), tumbuh (4.000) atau sudah maju (600). Karena rencana usaha yang disusun jadi berbeda sesuai level.

Selanjutnya berikut ini adalah 5 langkah penyusunan rencana usaha untuk Bumdes Rintisan, jadi sudah disesuaikan dan disederhanakan.

  1. Pemetaan Bentang (Basis Data)

  2. Pemilihan Peluang & Model Bisnis (Peluang)

  3. Perhitungan Kebutuhan Investasi & Pendanaan

  4. Proyeksi Pendapatan & Biaya (Proyeksi)

  5. Analisa Dampak dan Kelayakan Usaha (Kelayakan)

Basis data adalah untuk meneliti potensi, karena tidak semua potensi itu memiliki peluang, juga tidak semua potensi ada yang mau beli. Maka di sini kita harus memilih dari semua potensi mana jelas memiliki pembeli dan mampu kita lakukan.

Kemudian kita harus mampu menghitung kebutuhan investasinya berapa, apakah cukup hanya penyertaan dari dana desa, kalau tidak cukup terus bagaimana, apakah bisa penyertaan modal masyarakat, apakah perlu pinjam bank, ataukah dibuat bertahap multi tahun.

Selanjutnya kita harus membuat proyeksi, kira-kira bila sudah jalan pendapatannya berapa, membutuhkan biaya berapa, surplusnya berapa, berapa tahun balik modal. Sehingga layak enggak kalau ada usaha 20 tahun baru balik modal, atau cuma butuh 3 tahun.

Mengenai pemetaan bentang alam yang penting tergambar areanya, batasnya mana, apakah ada gunung. Selanjutnya pemetaan sosial, berapa jumlah penduduk, mata pencahariannya apa, kemudian dari sisi ekonomi tingkat pendapatannya berapa, kemudian dari sisi teknologi juga harus diuraikan.

Kita daftar saja semua potensi, dan masing-masing potensi diteliti pokok masalahnya apa, selanjutnya dipilah dan dipilih. Survey menunjukkan bahwa Bumdes yang sukses ternyata fokus pada satu unit usaha terutama pada tiga tahun pertama. Jadi dari semua peluang yang ada pilih satu saja yang dijalani.

Kemudian kita ukur, misalnya memilih wisata air terjun, kira-kira itu menarik wisatawan dari desa kita sendiri, apakah masyarakat di sekitar kecamatan, atau sampai di kabupaten dan seterusnya. Ini harus dilihat ukurannya, kalau cuma dari desa sendiri berarti kecil, kalau cuma foto kopi berarti dari desa sendiri.

Dan yang palimg penting, potensi itu tidak akan menjadi duit kalau kita tidak punya SDM, sarana prasarana, dan manajemen. Jadi intinya adalah pilih yang mampu kita lakukan dan ada yang mau beli. Itulah fokusnya supaya resiko jadi turun.

Potensi Desa

Selanjutnya Pak Rudi menerangkan bahwa dalam menyusun rencana usaha kita harus merujuk kembali UU Desa. Membahas Bumdes tanpa memaknai UU Desa maka jadi latah dan ikut-ikutan sebab kurang sesuai dengan potensi desanya.

UU Desa sudah menyebut bahwa Bumdes adalah badan usaha yang bercirikan desa, artinya dia harus menggali potensi desa. Ada 3 yang disebut dalam UU Desa yaitu untuk mengelola aset desa, mengelola layanan, dan usaha lainnya. Maka tidak heran 600 Bumdes yang sukses, mereka selalu mengelola aset desa, apakah itu tanah kas desa, apakah itu embung. Kedua yang sukses adalah mengelola layanan. “Karena menurut penelitian kita hanya ada lima jenis usaha yang terbukti berhasil 1) bisnis sosial seperti mengelola sampah dan air 2) wisata desa 3) pasar desa 4) pengolahan 5) simpan pinjam.” kata Pak Rudi.

Ini bukan berarti bisnis lainnya tidak berhasil. Tapi kalau Bumdes bersaing langsung dengan masyarakat maka pasti akan kalah, karena mereka sudah punya pengalaman dan satu-satunya mata pencaharian sehingga daya juang atau daya saing jadi lebih kuat. Kalau Bumdes bersaing dengan pemain lebih besar lagi maka hasilnya lebih kalah.

Untuk itu Bumdes harus memanfaatkan keistimewaannya, yaitu dia bisa mengelola aset desa berdesarkan kewenangan yang diatur Perdes. Keistimewaan lain adalah Bumdes mendapat sumber modal dari dana desa, bayangkan itu kalau UMKM maka harus utang bank pinjam sana-sini.

Ini yang penting untuk diperhatikan, gunakan kekuatan kewenangan yang ada di dalam UU Desa yaitu kewenangan untuk mengelola wilayah, penduduk, dan potensi yang ada di situ. Setelah cukup kuat, lalu mengelola yang lain.

Rencana VS Pelaksanaan

Menanggapi pertanyaan peserta kuliah mengenai Bumdes yang pelaksanaannya tidak sesuai dengan rencana usaha, Pak Rudi menjelaskan bahwa sebenarnya rencana usaha itu untuk memberi gambaran yang utuh, misalnya usaha wisata yang rencananya membuat kuliner, namun pada pelaksanaannya membuat alat game permainan anak-anak, itu tidak apa-apa. “Tapi jangan sampai rencananya usaha, pelaksanaannya jadi simpan pinjam.” kata Pak Rudi.

Rencana usaha itu tidak perlu muluk-muluk. Tentukan dulu mau usaha apa: jasa, dagang atau produksi. Jasa ini seperti pengelolaan sampah, jasa air bersih, wisata, simpan pinjam. Tentukan dan fokus, masalah operasional itu ada perencanaan lain yang lebih taktis.

Rancana usaha itu sebenarnya sederhana, hanya menyangkut tiga hal pokok, yaitu: kita mau masuk bisnis apa; kebutuhan modal berapa; kemudian pastikan layak atau tidak.

Kemudian sebagai penutup Pak Rudi menyampaikan kunci sukses unit usaha Bumdes:

  1. Keberanian, jadi walau begitu banyak peluang, bila tidak keberanian untuk eksekusi maka tidak akan jadi usaha

  2. Butuh kepemimpinan lokal

  3. Manajerial skill, maka kita pesan pengelola Bumdes untuk terus belajar, jangan pernah lelah untuk terus berjuang dan belajar dalam rangka mengembangkan usaha, bahan belajar sudah ada dimana-mana

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.