Pengawasan & Pertanggung-jawaban Bumdes

Pengawasan & Pertanggung-jawaban Bumdes

Wed, 02/05/2020 - 14:19
0 comments

Catatan Kuliah 10

Pengawasan & Pertanggungjawaban Bumdes

Bersama: Tisna Hidayat (Bumdes Niaga Mulya), Arman Aditya (TA PED Bandung Barat)

Host: Humaira

Kuliah kali ini menampilkan kasus Bumdes Niaga Mulya dari Desa Kertamukti Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Bumdes ini tergolong tua, yaitu berdiri pada tahun 2003. Secara omset mungkin tidak seperti bumdes yang tergolong unicorn, yaitu bumdes yang cepat melejit dengan omset milyaran atau bahkan puluhan muilyar.

Bumdes Niaga Mulya ini relative mapan dan stabil, terlihat dari tahun ke tahun laporan pertanggung-jawaban yang disampaikan dalam Musdes (musyawarah desa) selalu memuaskan. Artinya tidak  pernah merugi dan selalu menyumbang PAD cukup lumayan. Bisnis yang dijalankan juga relative berkembang, walau tidak melejit drastis seperti bumdes yang besar.

Awal berdiri Bumdes Niaga Mulya mendapat penyertaan modal dari desa sebesar 15 juta, yang dipergunakan untuk unit usaha simpan pinjam. Hingga sekarang terjadi perkembangan yang cukup pesat, apalagi sejak adanya dana desa tahun 2015 maka penyertaan modal dari desa juga terus bertambah. Untuk unit simpan-pinjam, saat ini sudah menjangkau 500 orang dan berjalan relative lancar. Saat ini juga telah berjalan unit penyewaan alat pesta seperti meja-kursi, piring, panggung dan sound system yang cukup menguntungkan, baik itu dari sisi laba Bumdes maupun manfaat yang diperoleh masyarakat desa.

Setelah mendapat penyertaan modal yang cukup besar, selanjutnya Bumdes Niaga Mulya juga membuka usaha toko. Unit ini yang pada posisi sekarang memperoleh laba yang paling besar. Konsep toko yang dijalankan bukan seperti toserba (toko serba ada) namun hanya beberapa barang yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, yaitu agen gas elpiji, pupuk dan obat-obatan pertanian. Mengenai ATK, ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan kantor desa dan masyarakat sekitar. “Dari pada kebutuhan kantor desa itu belanja ke tempat lain, lebih baik belanja ke Bumdes.” Kata Pak Hidayat, direktur Bumdes Niaga Mulya.

Dalam melayani pupuk dan kebutuhan pertanian yang lain, Bumdes juga bekerjasama dengan Gapoktan (gabungan kelompok tani) sehingga pembelian untuk keperluan itu bisa dibayar ketika sudah panen. Pak Hidayat berkata, “yang selalu menjadi dasar pijakan kami adalah Bumdes harus bermanfaat dan manfaat itu harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat desa.”

Jadi sejak awal Bumdes Niaga Mulya mengambil celah bisnis yang bersifat dukungan kepada masyarakat desa supaya bisa menjalankan usaha-nya masing-masing yang kebanyakan di sektor pertanian. Serta beberapa kebutuhan pokok dan mendesak seperti unit simpan pinjam.

Kemudian sejak tahun 2018 Bumdes Niaga Mulya juga pro-aktif dalam mengembangkan bisnis yaitu dengan dibukanya unit budi daya, yang mengembangkan budi daya ikan gurami dan jamur tiram. Usaha ini dilakukan dengan bekerja-sama dengan masyarakat desa. Konsepnya adalah memanfaatkan lingkungan halaman rumah dan memanfaatkan waktu luang di sela kesibukan bertani. Dan unit ini juga berjalan lancar dan sedikit demi sedikit juga terus berkembang.

“Dari awal unit usaha yang dijalankan Bumdes Niaga Mulya ini tidak ada yang dihentikan atau ditutup, semua berjalan hingga sekarang, sejak tahun 2003 yang ada adalah penambahan unit usaha. Kami merencanakan bisnis tidak terlalu muluk-muluk, yang penting bermanfaat bagi masyarakat desa, itu saja,” kata Pak Hidayat.

Pengawasan

Pada Bumdes Niaga Mulya pengawasan oleh Badan Pengawas itu dilakukan sebulan sekali, dengan jadwal yang tidak ditentukan sebelumnya. Tim pengawas langsung ke lokasi unit usaha untuk memeriksa apakah unit usaha itu berjalan dengan baik. Tim pengawas juga melakukan pemeriksaan pembukuan dan laporan keuangan masing-masing unit usaha. Untuk menggali potensi lebih lanjut pengawas juga banyak berdiskusi dengan pengelola unit usaha, dan juga menggali pendapat masyarakat desa.

Menurut keterangan Pak Arman hal paling penting dalam pengawasan adalah apakah unit usaha itu telah berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan datang langsung ke lokasi maka bisa memeriksa apakah ada kelemahan atau penyimpangan tata kelola, dan langsung bisa memberikan resep perbaikan kepada pengurus Bumdes.

“Struktur organisasi bumdes itu ada tiga, yaitu penasehat yang secara ex-officio dijabat oleh kepala desa, kemudian ada badan pengawas, serta pengurus Bumdes. Jadi tugas pengawas itu lebih kepada bagaimana mengendalikan unit usaha bumdes itu bisa berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya,” kata Pak Arman.

Mengenai LPJ atau laporan pertanggung-jawaban yang disusun tiap tahun, laporan disusun oleh pengurus Bumdes Niaga Mulya dibawah arahan dan bimbingan badan pengawas. Setelah tersusun kemudian dikonsultasikan kepada Penasehat, kemudian yang terakhir dibawa ke Musdes.

“Alhamdulillah, setiap pembahasan LPJ Bumdes dalam Musdes dari tahun ke tahun kesimpulannya selalu memuaskan. Memang Bumdes terus menunjukkan peningkatan laba dan perkembangan usaha, serta yang paling penting adalah tingkat kepuasan masyarakat desa sangat tinggi, karena mereka sangat merasakan manfaat keberadaan Bumdes,” kata Pak Hidayat.

Menurut Pak Arman sebagai TA-PED Kabupaten Bandung Barat, bahwa pengawasan itu ada dua, yang pertama bersifat internal yaitu yang dilakukan badan pengawas, sedangkan yang kedua bersifat eksternal yaitu yang dilakukan BPD. Untuk LPJ maka Badan Pengawas memberi masukan untuk perbaikan laporan, juga memberi masukan untuk perencanaan tahun depan.

Kata Pak Arman, “Indikator pengurus Bumdes gagal atau tidak itu tergantung dari apakah perencanaan sudah dijalankan dengan baik. Termasuk apakah anggaran dipergunakan sesuai rencana, juga apakah sudah menjalankan strategi bisnis yang telah ditetapkan.”

“Menurut kami tidak ada bisnis yang baik tanpa perencanaan yang baik serta didukung komitmen untuk melaksanakannya, karena dalam bisnis itu dibutuhkan komitmen. Dan komitmen yang kita butuhkan itu adalah komitmen untuk melaksanakan rencana,” lanjut Pak Arman.

Di Kabupaten Bandung Barat kadangkala ditemukan badan pengawas tidak mengerti tupoksinya, sehingga pengawasan tidak berjalan dengan baik. Mungkin karena badan pengawas itu sifatnya dibalik layar, sehingga kurang diberdayakan dan kurang didampingi. Karena rata-rata Bumdes lebih fokus pada pengelolaan usaha dan kurang memperhatikan kendali dan pengawasan, sehingga untuk badan pengawas kurang diatur dan tidak dibuat petunjuk teknis.

“Sesuai dengan peraturan Menteri seharusnya badan pengawas juga ikut serta dalam penyusunan juknis pengawasan, yang terjadi seringkali mereka terima jadi, sehingga gagap dalam pelaksanaan pengawasan. Tupoksi itu ada di dalam Permen Desa No. 4 tahun 2015 tentang Bumdes, dan seharusnya juga tertauang dalam AD/ART Bumdes. Kultur kita itu malas membaca, mungkin ini masalah kita juga sebagai pendamping untuk lebih memberdayakan badan pengawas,” kata Pak Arman.

Menanggapi masalah ini, Pak Hidayat sebagai direktur Bumdes berkata, “Karena ini di desa maka SDM di desa untuk pengawas juga banyak keterbatasan. Hasil musyawarah desa itu yang penting bagi kita bisa dipercaya dan amanah.”

Dari pengalaman Bumdes Niaga Mulya mengenai pelaksanaan tidak sesuai perencanaan itu tidak pernah terjadi, kalau tidak memenuhi target seperti yang direncanakan pernah terjadi, misalnya seperti penjualan pupuk ada yang dibayar setelah panen, kadangkala juga ada kredit macet, namun itu semua pada akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Jadi tidak sesederhana kita jual sekian lalu dapat untung sekian seperti yang tertulis dalam perencanaan.

Menurut Pak Arman sebagai TA PED, kalau hanya tidak memenuhi target itu biasanya tidak terlalu krusial. Banyak yang terjadi di desa itu seperti ini, misalnya perencanaan bisnis A dengan modal sekian, dengan susunan pengelola yang sudah ditetapkan. Ternyata dalam pelaksanaan jadi berbeda, karena di desa itu agak unik, dibentuk sekarang belum tentu permodalannya sekarang, bisa jadi permodalannya terjadi pada dana desa tahap 3, Adakalanya pengurus mundur selama masa tunggu tersebut, pada saat modal masuk dalam rekening Bumdes maka terpaksa menunjuk pengurus baru. Masalahnya adalah pengurus baru belum tentu bisa menjalankan bisnis yang telah direncanakan. Sehingga kalau dipaksakan seringkali hasilnya tidak maksimal.

Menanggapi pertanyaan, bila ada unit usaha Bumdes mengalami kendala di tengah jalan, kira-kira apakah tetap diteruskan atau berganti bisnis, menurut Pak Arman kalau salah satu unit mengalami kendala maka perlu dikaji lebih lanjut apakah masih berpotensi, karena suatu usaha yang merugi belum tentu tidak bisa mendapatkan untung di kemudian hari. Itu mungkin terjadi karena ada kesalahan dalam manajemen, kesalahan dalam pemasaran, atau dalam pengelolaan keuangan. Sebenarnya ini tugas pengawas yang harus mengevaluasi langsung dari lapangan, catatan pembukuan, dan koneksi bisnis yang mungkin bisa dilakukan. Dari situ pengawas bisa mengambil kesimpulan apakah unit usaha tersebut dihentikan atau layak dilanjutkan dengan berbagai perbaikan.

Selanjutnya Pak Arman menyampaikan tips untuk badan pengawas. Pertama harus memahami perencanaan yang telah ditetapka sebelumnya. Kedua perlu biki bikin pointer-pointer sendiri bagaimana cara mengawasi, bisa bikin buku bimbingan kecil yang sederhana, dan bisa untuk alat melihat keuangan dan cashflow. Ketiga, di desa itu kalau terlalu diawasi kan jadi risih, jadi perlu dikembangkan trik yang luwes. Dan keempat, pengawas yang baik adalah setelah menemukan kelemahan langsung disampaikan kepada pengurus untuk segera diperbaiki.

Dalam perencanaan untuk membentuk unit usaha memang harus menggali potensi, namun sebenarnya SDM yang akan mengelola Bumdes juga perlu digali potensinya, apakah dia punya potensi kemampuan untuk mengembangkan bisnis yang direncanakan. Karena tidak semua orang mampu menjalankan bisnis yang telah ditentukan sebelumnya. Jadi sebaiknya penunjukan pengurus itu parallel dengan penyusunan rencana bisnis unit usaha.***

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.