MISKIN

MISKIN

Profile picture for user admin

(by Sutoro Eko)

Ilmu pengetahuan dan keahlian bertanya: apa ukuran kemiskinan? Bagaimana kondisi kemiskinan? Mengapa kemiskinan? Politik pengetahuan bertanya: siapa yang miskin? Yang jauh lebih penting, siapa yang membuat miskin? Politisi eksekutif dan legislatif, yang memperoleh mandat dari rakyat dan juga dipilih oleh orang miskin, tentu harus menggunakan politik pengetahuan itu. Mereka secara politik bertugas membuat pertanyaan dan pernyataan.

Merujuk pada William Easterly (The Tyranny of Experts: Economists, Dictators, and the Forgotten Rights of the Poor,2014), aktor yang membuat kemiskinan adalah para ahli. Ahli hadir sebagai sang tiran, yang semata mengutamakan keahliannya untuk membuat kebijakan, sembari mengabaikan hak-hak orang miskin. Dia berujar bahwa pendekatan konvensional pembangunan ekonomi, untuk membuat negara-negara miskin menjadi kaya, didasarkan pada ilusi teknokratis: keyakinan bahwa kemiskinan adalah masalah teknis murni yang dapat ditangani dengan solusi teknis seperti pupuk, antibiotik, atau suplemen gizi. "Sihir yang memusatkan perhatian pada solusi teknis sambil menyembunyikan pelanggaran hak-hak rakyat adalah tragedi moral pembangunan saat ini”, demikian ujar Easterly.

Formula teknokrasi dan solusi teknis selalu menjadi diktat bagi para ahli ketika mereka berhadapan dengan masalah manusia dan rakyat yang begitu beragam, dari ujung Afrika sampai pelodok desa di Indonesia. Maka para ahli yang suka pada diktat itu disebut juga sebagai diktator.

(diambil dari Status Facebook Sutoro Eko)

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.