MENTERI

MENTERI

Profile picture for user admin

(by Sutoro Eko)

Ada empat tipe menteri:

  1. Menteri bertipe BIROKRAT: suka membuat banyak peraturan yang memperbanyak kewajiban, larangan, syarat, ketentuan dan prosedur kepada warga, masyarakat, daerah dan desa. ATURAN, ATURAN, ATURAN.
  2. Menteri bertipe TEKNOKRAT: suka membuat kebijakan dan program dengan nalarnya sendiri tanpa memperhatikan kepentingan rakyat. Program digunakan untuk pertunjukan dan kemareman. PROGRAM, PROGRAM, PROGRAM
  3. Menteri bertipe POLITISI: suka mengatasnamakan rakyat, populis dan menjadi mesin politik bagi partainya. RAKYAT, RAKYAT, RAKYAT.
  4. Menteri bertipe TENGKULAK: suka membikin kebijakan dan program yang mengutamakan dunia usaha, memanfaatkan program untuk kepentingan bisnisnya sendiri maupun teman-temannya. BISNIS, BISNIS, BISNIS.

Kalau empat tipe itu tidak cukup, maka masih ada satu tipe lagi, yakni menteri yang bertipe LAIN-LAIN. Maksudnya: lain presiden, lain menteri, lain partai, lain birokrasi, lain rakyat. Lain bicara lain bekerja. Lain masalah, lain solusi. Lain aspirasi, lain kebijakan.

Lalu? Presiden Jokowi pernah berujar kepada para menteri: “Tidak usah bikin banyak program. Cukup empat program. Selebihnya adalah pelayanan”.

Program adalah solusi teknis-manajerial terhadap barang yang kasat mata, seperti membangun infrastruktur. Kalau untuk memuliakan manusia, rakyat, warga dan masyarakat, maka solusinya adalah pelayanan yang menjalankan kebijakan dan undang-undang. Kalau undang-undang dan/atau peraturan pelaksanannya bersifat teknokratis-birokratis yang tidak berpihak pada rakyat, maka solusinya bukan lewat tambal sulam dengan inovasi, tetapi harus pakai reformasi.

Sebagai pembantu presiden, seharusnya menteri – apapun latar belakangnya -- hadir sebagai pemerintah, menggunakan otoritas dan kapasitasnya untuk memerintah dan mengendalikan negara, sekaligus memastikan hak-kewajiban warga, masyarakat, daerah dan desa.

Menteri politisi yang hebat dalam berpolitik perlu belajar politik. Menteri mungkin perlu barisan tenaga ahli. Tetapi tenaga ahli perlu belajar Bahasa Indonesia, agar duduk tegak-lurus dalam memahami-menempatkan subjek, predikat, objek.

*) diambil dari status Facebook Sutoro Eko

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.