Konsep Inklusif

Konsep Inklusif

oleh : Sutoro Eko

Kita sudah makin biasa mengucapkan konsep impor "inklusif", antara lain untuk memperjuangkan hak-hak kaum marginal: difabel, fakir miskin, janda tua yang renta, dan lain-lain. Konsep inklusif biasa digunakan untuk membikin label demokrasi inklusif, pembangunan inklusif dan pertumbuhan inklusif.

Maksud dan niatnya pasti baik. Tetapi konsep inklusif tidak diterapkan secara sistemik, melainkan dipahami dan diterapkan secara teknokratik menjadi program yang lengkap dengan problematisasi dan teknikalisasi. Ujungnya adalah proyek, penyerapan dan pertunjukan.

Dalam bahasa Jawa, inklusif berarti sumrambah atau murakapi kanggo wong akeh. Dalam bahasa Indonesia, inklusif senada dengan semesta, yang disukai dan diungkapkan oleh Bung Karno. Semesta berarti menyeluruh atau universal, yang sama sekali tidak membedakan kelas rakyat jelata, rakyat jelita dan rakyat jelalatan. Contoh: dalam pelayanan di rumah sakit, tidak mengenal kelas 3, kelas 2, kelas 1 dan kelas VIP.

Saya merekomendasikan agar konsep inklusif yang impor itu diganti dengan konsep semesta, yang ori Indonesia dan lebih ideologis. Daripada pakai konsep pembangunan inklusif lebih baik pakai pembangunan semesta.

(dicuplik dari sataus Facebook Sutoro Eko)

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.