Kolaborasi Bisnis Bumdes dengan Swasta

Kolaborasi Bisnis Bumdes dengan Swasta

Mon, 01/27/2020 - 14:00
0 comments

Catatan Kuliah 04

Kolaborasi Bisnis Bumdes dengan Swasta

Bersama: Nugroho Setijo Nagoro (direktur PUED PPMD), Farid Naufal Aslam (CEO PT. Aruna), Aviliani (Advisor Menteri Desa)

Host: Ivanovic Agusta (Kapusdatin)

 

PT. Aruna telah bekerjasama dengan nelayan di beberapa wilayah dengan pola Prukades (produk unggulan kawasan perdesaan) dan produk-nya sudah di ekspor. Awalnya Aruna bergerak di bidang teknologi online Ecommerce,

Aruna membantu masyarakat desa pesisir terutama nelayan dalam memproduksi hasil lautnya hingga bisa dijual ke pembeli akhir. Untuk saat ini Aruna fokus pada produk-produk yang bernilai tinggi seperti lobster dan kepiting dengan nilai seratus ribu ke atas per-kilo. Bila sebelumnya nelayan daerah Konawe menjual kepiting biasanya sekitar dua puluh ribu per-kilo, setelah bekerja-sama dengan Aruna mereka bisa mendapat sekitar lima puluh ribu per-kilo di tingkat nelayan.

Banyak metode yang dilakukan PT. Aruna supaya nelayan mau bekerja-sama. Kesulitan pertama adalah mengenalkan pada mereka soal teknologi informasi. Sehingga Aruna terjun langsung mencari anak muda dengan umur sekitar 25 tahun dari desa tersebut yang bisa dilatih untuk mengoperasikan teknologi informasi, baik itu handphone maupun GPS yang dipasang pada perahu. Para pemuda ini yang kami tugaskan untuk menjadi agen yang mendampingi nelayan. Langkah untuk melatih nelayan secara langsung sebenarnya pernah dilakukan namun tidak berjalan dengan baik. Daripada repot memaksa nelayan untuk menggunakan aplikasi, lebih mudah kalau para pemuda ini yang membantu mengoperasikan aplikasi, mulai dari data nelayan yang ikut kemitraan hingga input data hasil tangkapan yang dikirim.

Dari berbagai langkah kerja tersebut, untuk selanjutnya Aruna memiliki data real kondisi nelayan dan potensinya. Hal ini penting ketika melakukan penawaran penjualan, tentu harus tahu kapasitas tiap desa nelayan. Misalnya Desa Lepe di Konawe untuk kepiting kapasitas produksinya 100 kg per-hari. Jadi pada desa mitra Aruna, dapat diketahui berapa jumlah nelayan, alat tangkapnya apa saja, lokasi laut yang menjadi wilayah tangkapan, dan hasil tangkapan-nya apa saja, serta berapa rata-rata kapasitas hasil tangkapan per-hari.

Mengenai lokasi tangkapan, pada perahu nelayan dilengkapi dengan GPS, sehingga dapat diketahui dengan tepat dimana ikan ditangkap. Hal ini penting untuk melangkapi dokumen keterlacakan yang harus menyebutkan lokasi dimana ikan itu ditangkap. Karena produk yang dihasilkan adalah untuk ekspor dan untuk orang luar negeri termasuk amerika bahwa lokasi tangkapan adalah penting yaitu memastikan ikan itu dari wilayah yang tidak tercemar, apakah ditangkap dengan cara legal, juga apakah nelayan yang menangkap ikan itu hidupnya sejahtera atau tidak.

Kemitraan Aruna dengan desa nelayan tersebar di beberapa tempat, mulai dari Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua. Jadi yang dilakukan bukan sekedar teknologi aplikasi saja, tapi juga membantu nelayan untuk mengetahui harga pasar, kualitas produk, juga memberdayakan ibu-ibu dalam memproses ikan hasil tangkapan supaya memenuhi standar kualitas ekspor. Ekosistem juga dibangun, yaitu bagaimana mengelola keuangan kelompok nelayan.

Produk Unggulan

Materi kuliah selanjutnya disampaikan oleh Ibu Aviliani. Bahwa Kementerian Desa mencanangkan tiap kawasan desa itu mempunyai produk unggulan, yaitu yang dikenal dengan program Prukades. Latar belakang program Prukades adalah karena selama ini ada produk tapi berjalan sendiri-sendiri, sehingga tidak dikatakan unggulan karena tidak tahu mana yang unggul. Kemudian, skala ekonomi-nya juga kecil-kecil, sehingga harga jual jadi mahal dan tidak kompetitif.

Dengan adanya Prukades diharapkan dua atau lebih desa dalam satu Kawasan bisa menyamakan suatu produk unggulan tertentu, dan saling kerjasama. Berdasarkan hasil kajian SMERU dan STAN membuktikan bahwa desa yang mampu mengusahakan Prukades dengan Dana Desa ternyata pendapatan per-kapita masyarakat desa jadi naik. Begitu juga desa yang Bumdes-nya berjalan baik, maka pendapatan masyarakat desa juga naik. Dari 74 ribu lebih desa yang ada di Indonesia diharapkan membentuk Kawasan masing-masing dengan suatu produk unggulan. Selama ini yang sudah membentuk Prukades hanya sekitar 20%.

Poin penting yang disampaikan Bu Aviliani bahwa dalam menjalankan dalam menjalankan Prukades yang diutamakan adalah demand side, yaitu sisi permintaan pasar. Jadi jangan sekadar supply side, yaitu produksi namun tidak tahu siapa yang beli. Contoh paling bagus adalah seperti yang dilakukan Aruna, atau program kemitraan yang lain. Jadi perumusan Prukades sejak awal bisa diarahkan memenuhi kualitas dan kuantitas mitra perusahaan yang menampung produk yang dihasilkan.

Selanjutnya peran Bumdes adalah melakukan konsolidasi supaya produksi bisa berjalan lancar serta melakukan kontrak kerja-sama dengan perusahaan. Sifat kontrak itu bersifat kluster atau rombongan supaya bisa dalam jumlah besar sesuai permintaan perusahaan. Bumdes juga berperan melakukan pembinaan kepada masyarakat desa yang ikut dalam usaha.

Dari data yang ada bahwa 30 juta orang yang paling miskin itu ada di desa, sedangkal milenial (generasi muda terdidik) sebanyak 69% tinggal di kota. Ini kan berbahaya, sehingga para milenial perlu ditarik ke desa. Ibarat ada gula, ada semut maka di desa perlu diciptakan aktivitas ekonomi yang cukup menarik. Sehingga secara nasional bergerak menjadi negara maju dan keluar dari middle income trap (perangkap pendapatan menengah), yaitu keadaan ketika suatu negara berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah, tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.

Untuk mengembangkan Prukades dalam jangka panjang maka perlu pembina yang punya jiwa entrepreneur (kewirausahaan), misalnya pembina dari perguruan tinggi, namun bukan hanya sekedar KKN, melainkan suatu pembinaan yang berkesinambungan. Seperti yang dilakukan oleh Universitas Trunojoyo dari Bangkalan Madura dimana tiap kelas mempunyai satu desa binaan yang berjalan selama empat tahun. Ini juga berarti menjalankan prinsip link and match sehingga mahasiswa tahu kondisi kenyataan lapangan. Di samping itu perguruan tinggi diharapkan juga melakukan program yang lebih khusus lagi dalam membina desa. Dan secara kelembagaan antara Kementerian Desa dengan beberapa perguruan tinggi juga sudah menjalin kerja-sama untuk itu.

Satu kunci lagi disampaikan oleh Bu Aviliani, bahwa direktur Bumdes harus punya jiwa entrepreneur, karena dia harus kreatif mencari hubungan dengan mitra bisnis, menjalin hubungan dalam rangka penjualan, serta kreatif dalam menyiapkan modal usaha atau cari pinjaman.

Pada kuliah sesi terakhir, Pak Nugroho menggaris-bawahi penjelasan Bu Aviliani mengena demand side, bahwa kita harus merubah orientasi, masyarakat desa itu jangan dipaksa-paksa memproduksi sesuatu tetapi tidak jelas pasar-nya. Kegagalan program pemerintah beberapa dasa warsa lalu karena hal seperti itu.

Selanjutnya yang juga penting adalah kolaborasi dengan perusahaan, seperti yang dilakukan masyarakat desa nelayan dengan Aruna, ini juga menjadi contoh praktek Prukades. Keberadaan lembaga seperti Aruna itu menjadi faktor yang cukup menentukan, karena perusahaan itu mempunyai akses pasar, selain itu perusahaan juga punya misi untuk menjaga keberlanjutan, volume (jumlah) dan kualitas produksi.

Sedangkan soal tata kelola itu menjadi tugas Bumdes, menyangkut menjaga kinerja masyarakat desa yang terlibat dalam usaha, hingga konsolidasi produk supaya memenuhi skala ekonomi dan sesuai dengan permintaan perusahaan. Lebih lanjut lagi maka Bumdes bisa negosiasi dengan pasar melalui perusahaan tersebut.

Jadi pada Prukades yang melibatkan multi pihak itu mensyaratkan untuk menjaga kapasitas produksi dan kualitas, kemudian tata kelola yang baik, kemudian akses pasar. Tadi sudah disebutkan pada kemitraan dengan Aruna di Desa Lepe, ada peningkatan jumlah produksi yang sebelumnya hanya 5 kg rajungan per-hari menjadi 30 kg per-hari, ada peningkatan harga dari 30 ribu per-kg menjadi 260 ribu per-kg.

Ini semua berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat desa yang selanjutnya bisa terjadi multi efek untuk transformasi ekonomi desa. Usaha kecil dan usaha rumah tangga bisa terpicu untuk berkembang pula. Dengan begitu investasi dari luar juga akan masuk ketika kegiatan ekonomi berkembang.

Secara umum hasil kajian Indef mengatakan dengan adanya dana desa maka terjadi penurunan biaya investasi sebesar 3%. Maka untuk selanjutnya dana desa perlu didorong untuk kegiatan-kegiatan ekonomi produktif supaya mengurangi ketergantungan terhadap supra desa, bila pendapatan asli desa (PAD) sudah cukup tinggi maka apalah artinya dana desa yang dikucurkan dari pusat.

Seperti dijelaskan Bu Aviliani sebelumnya, Pak Nugroho juga menjelaskan bahwa mitra perguruan tinggi atau lembaga lain sebagai inkubator itu mendampingi Bumdes dalam pengembangan kapasitas, baik tata kelola dan pemahaman mengenai nilai tambah. Secara khusus kerjasama Kementerian Desa dengan perguruan tinggi sudah dipersiapkan dan awal tahun 2020 akan diluncurkan. Dan salah satu tugas perguruan tinggi dalam kerjasama tersebut adalah mencarikan koneksi desa dengan korporasi perusahaan, karena praktek pada 126 desa pada tahun kemarin ternyata menunjukkan berkembang lebih cepat bila ber-mitra dengan korporasi.****

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.