KELURAHAN PULANG KE DESA

KELURAHAN PULANG KE DESA

Profile picture for user admin

(Sutoro Eko)

Pertama, Prof IRM perlu menyaksikan Aceh. Sejak 2008, Kota Banda Aceh dan kota-kota lain di Aceh melakukan "gerakan kembali ke desa" mengembalikan kelurahan jadi gampong. Pengalaman Aceh ini menjadi salah satu inspirasi gagasan "kelurahan pulang kampung ke desa" di UU Desa.

Kedua, "desa tempar berburu rente negara" bukan hanya fenomena hari ini akibat dari UU Desa. Sejak zaman kolonial negara sudah berburu rente dan jadi benalu atas desa.

Ketiga, Prof IRM perlu belajar sejarah dan politik di baliknya, mengapa tahun 1979 pemerintah menciptakan kelurahan. Dia beranggapan bahwa "desa berubah menjadi kelurahan" merupakan akal sehat, dengan begitu "kelurahan jadi desa" merupakan akal sakit. Tolong tunjukkan siapa pakar sosiologi hukum yang bilang bahwa kelurahan adalah pemerintahan masyarakat perkotaan dan desa adalah pemerintahan masyarakat perdesaan. Prof perlu melihat misalnya mengapa desa-desa berwajah kota di Sleman, Kota Batu, Kota Ambon dll, tetap bertahan menjadi desa.

Dulu kebanyakan orang, dan Prof IRM sekarang, mengatakan bahwa kelurahan lebih maju dan lebih hebat daripada desa. Sekarang mazhab modernis yang keblinger ini diruntuhkan oleh UU Desa.

Keempat, Prof IRM perlu mencari tahu, bahwa tidak setiap kelurahan dibolehkan pulang menjadi desa. Yang dibolehkan adalah kelurahan bercirikan desa, yang secara salah kaprah dipaksakan pada era UU No. 22/1999.

(dicuplik dari status Facebook Sutoro Eko)

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.