ETIKA, WATAK, & POLITIK KEBIJAKAN

ETIKA, WATAK, & POLITIK KEBIJAKAN

Profile picture for user admin

(oleh : Sutoro Eko)

Bagaimana dan mengapa terjadi kengawuran, salah urus dan carut marut praktik kebijakan? Saya suka mengatakan begini. Kondisi carut marut hari ini merupakan warisan kebijakan pragmatis masa lalu. Kebijakan pragmatis yang ditempuh hari ini tidak mungkin mampu mengatasi carut marut, kecuali hanya mengawetkan dan mewariskan carut marut kepada generasi masa depan.

Saya akan memahami soal itu dengan etika. Etika itu soal otak/nalar yang bicara benar-salah, dan soal hati yang bicara soal baik-buruk. Jika otak dan hati itu dikombinasikan, maka menghasilkan empat watak.

Pertama, watak KEBAJIKAN yang memiliki otak benar dan hati baik. Para filsuf maupun agamawan yang sejati termasuk dalam posisi ini. Dengan berlandaskan pada kebenaran dan kebaikan, mereka secara normatif selalu mengajarkan tentang keadilan. Juga biasa melakukan kritik terhadap praktik kehidupan sosial dan kebijakan yang menyimpang dari kebenaran, kebaikan, kebajikan dan keadilan.

Kedua, watak KEBEJATAN memiliki otak salah dan hati buruk. Pelaku kebejatan disebut bandit, yang sedikit-banyak, berada di setiap institusi negara. Bandit biasa membuat kebijakan secara pragmatis, asal-asalan, abal-abal, sekaligus menumpangi kebijakan itu untuk menguntungkan dirinya sendiri maupun kelompoknya. Mereka juga merampas sumberdaya yang mengalir bersamaan dengan kebijakan.

Ketiga, watak KEBOHONGAN, yang memiliki otak salah dan hati baik. Tidak sedikit para aparatus negara (politisi maupun birokrat) yang masuk dalam watak ini. Mereka biasa gagal paham, salah nalar atau sesat pikir dalam membuat keputusan/kebijakan, tetapi mereka yakin bahwa apa yang dilakukan memiliki “niat baik” untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Dengan cara politik populisme, mereka biasa bertindak menyenangkan rakyat, tetapi setelah dinalar secara kritis, ternyata tidak menolong rakyat. Inilah kebohogan. Ada metafora yang cocok: “segelintir orang membunuh jutaan orang dengan ramah dan tersenyum, sedangkan jutaan orang yang dibunuh merasa senang dan berterima kasih”.

Keempat, watak KEDUNGUAN, yang memiliki otak benar dan hati buruk. Tidak sedikit ilmuwan, akademisi atau teknokrat yang memiliki watak ini. Dengan ilmu pengetahuan canggih yang mereka peroleh dari warisan kolonial atau dari Barat, mereka selalu mengklaim kebenaran nalar, tetapi ilmu mereka justru bertentangan dengan kemanusiaan, keadilan dan kerakyatan. Ada banyak contoh. Ada banyak ilmuwan mengatakan bahwa: “Dana Desa pasti gagal karena dirampas oleh elite lokal dan karena dalam desa tidak ada demokrasi”. Ilmuwan yang lain bilang: “Efektivitas Dana Desa sangat rendah karena kualitas SDM desa sangat rendah”. Ada juga yang bilang: “Desa adalah pemerintahan palsu yang justru menghambat pelayanan publik”. Argumen ilmiah itu benar dan tampak kritis. Tetapi ingat: pengetahuan adalah politik/kekuasaan. Argumen ilmiah yang berwatak kolonialis itu jutsru mengawetkan status quo, mendukung sentralisme, dan antidesa. Para aparatus negara akan memanfaatkan pengetahuan mereka untuk tidak berpihak kepada desa, sebaliknya melakukan pengaturan, pembinaan dan pengawasan secara sentralistik, hirarkhis, otokratik dan birokratik. Mereka juga jago menggunakan perangkat teknis dan angka untuk mengatasi kemiskinan, padahal akar masalah kemiskinan bukan teknis. Meskipun pengetahuan mereka dibongkar oleh tradisi poskolonial, tetapi mereka tetap dungu tidak berubah. Dengan begitu ilmuwan suka menghasilkan kebenaran teknokratik yang dungu, atau “ilmu untuk ilmu” bukan “ilmu untuk rakyat”.

Dalam praktik kebijakan, watak BOHONG dan DUNGU selalu berjumpa dan bersekongkol. Perjumpaan ini tidak membuahkan watak kebajikan karena berangkat dari hakekat dan titik berbeda, melainkan malah mendekati watak kebejatan meski tidak sama. Perjumpaan membuahkan kesesatan sebagaimana hadir dalam bentuk populisme teknokratik. Ia menumpangi demokrasi, yang seolah-olah bertujuan untuk kerakyatan dan keadilan, tetapi hanya kepalsuan.

(disadur dari status Facebook Sutoro Eko)

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.