9 Kunci Rahasia Pemanfaatan Dana Desa

9 Kunci Rahasia Pemanfaatan Dana Desa

Mon, 01/27/2020 - 14:11
0 comments

Catatan Kuliah 05

9 Kunci Rahasia Pemanfaatan Dana Desa

Bersama: Taufik Majid (Dirjend PPMD), Jimmy Rafai Gani, Haryono Suyono (advisor Menteri Desa)

Host: Humaira

 

Pada kuliah ini Pak Jimmy menyampaikan kisi-kisi bagaimana menggunakan dana desa supaya efektif. 74 ribu lebih desa di Indonesia dari tahun ke tahun mendapat dana desa dengan jumlah yang terus meningkat, hingga saat ini tiap desa mendapat sekitar 1 milyar khusus dari dana desa. Bila desa mampu menggunakan dana itu dengan baik maka dampak yang ditimbulkan sangat luar biasa. Berikut ini tip yang disampaikan.

Tip 1. Memahami lingkungan dan potensi desa. Pak Haryono menjelaskan bahwa memahami itu tidak hanya memahami rancangan yang disepakati dalam musyawarah desa (Musdes), namun juga harus memahami bagaimana konsolidasi pelaksanaan supaya berjalan sukses. Untuk itu maka harus mengetahui potensi dan sumber-daya yang tersedia di desa. Sebagai misal, kegiatan dari dana desa tidak bisa di-klaim sebagai kegiatan dari dana yang bersumber dari kabupaten, sebab keuangan desa itu berasal dari berbagai sumber. Untuk indikator awal menggali potensi desa bisa melihat website pddi.kemendesa.go.id dan tentu saja pegiat desa harus melakukan kajian lanjutan sebagai dasar untuk merumuskan perencanaan yang akan dibahas di Musdes.

Tip 2. Memahami desa dalam satu kawasan. Dari website itu juga bisa diketahui desa yang se-tipe atau dengan potensi yang mirip, ini untuk menjajagi kemungkinan kerjasama antar desa. Apalagi bila ada desa tetangga yang sudah cukup maju dalam mengelola suatu produk unggulan dan desa kita punya potensi untuk pengembangan produk sejenis, maka sangat bagus kalau terjadi kerja-sama. Kata Pak Haryono kerja keroyokan itu dampak-nya berlipat-lipat.

Tip 3. Amati, Tiru, Modifikasi. Adalah konsep transit knowledge, bahwa pengetahuan ternyata banyak dipelajari melalui pengalaman, dan pengalaman itu tidak selalu berasal dari diri sendiri, pengalaman pihak lain itu juga bisa menjadi bahan pembelajaran. Prinsipnya adalah jangan berangkat dari nol, kita bisa meniru desa-desa yang cukup sukses, namun tetap perlu melakukan modifikasi, karena sebaik-baiknya contoh, pasti menyimpan kelemahan, juga semirip-miripnya desa kita dengan desa contoh maka pasti ada perbedaan. Jadi modifikasi itu adalah perbaikan model supaya sesuai dengan kondisi desa kita.

Berkaitan dengan hal tersebut, Pak Taufik menyampaikan contoh kasus Desa Pujon Kidul di Kabupaten Malang. Desa ini tergolong baru dalam menjalankan Bumdes, awalnya bergerak dalam usaha mengelola sampah. Karena sudah banyak Bumdes yang mengelola sampah maka mereka melakukan studi banding dan mencontohnya. Perlu diketahui bahwa lokasi Desa Pujon Kidul adalah wilayah dataran tinggi (pegunungan) dan cukup jauh dari kota namun dilintasi oleh jalan provinsi yang cukup bagus. Produk unggulan wilayah tersebut adalah sayur-mayur yang relatif banyak menyuplai Pasar Induk di Jakarta.

Berdasarkan contoh pembelajaran dari Bumdes yang lebih dahulu mengelola sampah, Bumdes Pujon Kidul mampu mengembangkan pengelolaan sampah dengan sistem yang lebih maju karena ditopang oleh pertanian sayur-mayur yang menampung pupuk hasil pengolahan sampah tersebut. Dan saat ini pada kawasan itu juga memproses kerja-sama antar Bumdes dalam usaha dan budi-daya sayur organik atau yang spesial.

Lebih lanjut, Bumdes Pujon Kidul juga mengembangkan usaha agro wisata, yaitu destinasi wisata dengan aneka tanaman buah dan tanaman hias, serta pemandangan hutan pegunungan yang sangat indah. Pak Taufik mengatakan bahwa dinamika pemerintahan desa dan bumdesnya sangat jauh bila dibandingkan dua tahun lalu. Tahun ini Bumdes Pujon Kidul membukukan omset sebesar 12 milyar.

Tip 4. Mengetahui kekurangan dan kelemahan. Adalah perlu mengetahui kelemahan kita, seperti kasus Pujon Kidul adalah desa sepi yang jauh dari hingar-bingar kota, budi-daya sayur-mayur juga dilakukan begitu-begitu saja secara turun temurun, sehingga masyarakat desa kurang semangat atau kurang termotivasi. Setelah ter-identifikasi ada lemah semangat, maka perlu dicari cara untuk memompa semangat tersebut. Demikian pula masalah sampah, namun kemudian jadi berkah.

Pada sesi ini ada pertanyaan yang cukup menarik dari Bumdes Randu Mulya Jaya, Karawang, Jawa Barat. Bagaimana untuk desa yang tidak punya potensi alam dan potensi wisata, sedangkan semua ceruk usaha telah dikuasai oleh swasta dan individu pengusaha. Bumdes juga telah mencoba melakukan usaha sejenis namun terjadi benturan dan macet.

Pak Taufik mengatakan bahwa sekecil apa-pun potensi desa itu pasti ada. Ini belum ketemu saja, dalam kondisi ini maka tip identifikasi menjadi sangat penting. Secara global berdasarkan RPJMN bahwa investasi yang masuk di desa itu harus melibatkan tiga pihak, yaitu masyarakat, pemerintah desa dan investor swasta yang disebutkan di atas. Tiga pihak itu harus dalam posisi yang sama, seimbang dan setara. Tidak boleh ada yang lebih dominan, misalnya investor karena sebagai pemilik modal lalu mengabaikan masyarakat, itu tidak boleh. Jadi investor yang masuk itu juga harus mendampingi desa, memberikan pencerahan, pembelajaran dan inovasi.

Investor tidak boleh hanya memanfaatkan lahan yang ada di desa, namun harus ada kontribusi balik. Apakah itu kontribusi balik, itu masyarakat desa yang tahu, maka selanjutnya mereka harus duduk bersama antara masyarakat desa dengan investor, dan pemerintah desa dalam posisi tengah sebagai pihak yang punya otoritas. Seperti disebutkan dalam RPJMN konsepnya adalah community, public, privat partnership.

Jadi Bumdes di Karawang itu mungkin bisa bergerak dalam sektor jasa. Karena investasi itu boleh masuk kalau ada nilai tambahnya, ada share knowledge, harus menyerap tenaga kerja, dan yang paling penting memikirkan keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian bila diidentifikasi lebih jauh maka akan sangat banyak potensi yang bisa diolah.

Tip 5. Musyawarah menentukan prioritas. Karena yang punya dana desa adalah seluruh masyarakat, maka pemanfaatannya harus dimusyawarahkan. Yaitu membahas apa saja yang menjadi prioritas dan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat banyak. Kata Pak Taufik, kalau alur pandangan itu benar maka tidak perlu takut untuk dimusyawarahkan secara terbuka. Karena forum tertinggi dalam pengambilan keputusan desa adalah Musdes, maka keterwakilan tiap kalangan masyarakat harus diperhatikan, serta yang paling penting adalah terbuka untuk umum. Pokok bahasan masalah juga harus transparan dan akuntabel, supaya menghasilkan keputusan yang berdasar dan kokoh.

Tip 6. Pemanfaatan Dana Desa harus sesuai dengan hasil musyawarah. Hal ini menyangkut rentang kendali dan kontrol. Jadi masyarakat desa harus mengawasi apakah pelaksanaannya itu sudah sesuai dengan hasil musyawarah. Dalam praktek pelaksanaan seperti ini justru seringkali memicu masyarakat desa untuk mendukung, baik itu berupa tenaga, material maupun uang. Bila itu dalam kontek Bumdes, maka akan memicu masyarakat desa untuk ikut dalam penyertaan modal. Artinya pengendalian hasil musyawarah atas proses pelaksanaan yang dilakukan oleh masyarakat desa akan berdampak meningkatnya partisipasi.

Tip 7. Memperhatikan RPJMDes. Bahwa pemanfaatan dana desa itu perlu memperhatikan RPJMDes, supaya terarah dan ada keterkaitan dari tahun ke tahun. Karena RPJMDes adalah perencanaan makro sepanjang 6 tahun, sedangkan pemanfaatan dana desa yang per-tahun seperti tertuang dalam RKP (rencana kerja pembangunan) maka perlu merujuk RPJMDes.

Tip 8. Memperhatikan Prioritas Pemerintah. Walau pemanfaatan dana desa itu wewenang sepenuhnya masyaraka desa, namun tetap perlu memperhatikan prioritas yang dicanangkan pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun daerah. Prioritas pemerintah itu bisa bermakna potensi dukungan kepada desa, atau paling tidak sebagai rujukan (referensi) penting bagi desa untuk mengenali potensi pengembangannya sendiri.

Tip 9. Partisipatif, transparan dan bisa dipertanggung-jawabkan. Untuk itu harus didokumentasikan, baik itu yang menyangkut akuntansi dan pembukuan maupun proses pelaksanaan. Hal ini sangat diperlukan dalam evaluasi di kemudian hari. Transparan berarti terbuka, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Masyarakat desa boleh tahu, dan harus ada media informasi yang memadai supaya masyarakat desa bisa tahu. Sehingga pada akhirnya pemanfaatan dana desa itu bisa dipertanggung-jawabkan.*****

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.